Sabtu, 07 Desember 2013

CERPEN

Permen Cinta 

 

Kinar, melesat cepat melewati murid-murid lain di sepanjang Koridor sekolahnya, sambil tak berhenti sesekali menatap jarum jam di tangannya yang menunjukkan pukul 10.15. Yup!  Ia sudah hampir terlambat untuk mengikuti kelas kesenian, bimbingan dari Pak Damar,setelah jam istirahat itu.

“Cittt...”

Suara sepatunya berdecit seketika, ketika ia sampai di depan kelas kesenian yang cukup tua itu... pertama-tama ia mengetuk pintu dan masuk dengan tertunduk pasrah, siap akan kena semprotan dari guru super galak itu. Namun ia heran karena kelas itu amat sepi, ia mendongak dan melihat kelas itu kosong tak berpenghuni, dengan heran ia keluar dan mencoba mencari Devi, sahabat karibnya.

“Lohh.... Kinar, ngapain kamu di sini? Ini kan kelas Kesenian, kok kamu gak ikut?” tanya Bu Sarah guru Sejarah di sekolah Kinar. “Eh? Ibu... niatnya sih emang mau gitu bu... tapi tadi barusan saya masuk ke ruang kesenian, tapi nggak ada orang tuh bu..” jawab Kinar, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ohh gitu... kamu nggak tahu ya, kan kelas kesenian di pindah ke lantai dua, yang lama mau di jadiin gudang” jawab Bu Sarah, yang bikin Kinar panik. “Hah? Ya udah bu saya masuk dulu... permisi” Kinar berlari super cepat agar segera sampai ke lantai 2 dan berharap bahwa pelajaran Pak Damar, belum di mulai.

“Nget...” Kinar membuka pintu kelas kesenian dengan dada, dag dig dug ser.... “Kinar?” suara Devi terdengar, “Woii... Kinar sini cepetan” kata Devi lagi. Kinar yang takut kalau-kalau Pak Damar ada di ruangan itu pun hanya memejamkan matanya dan tak berani menengok.

“Nar... kenapa sih loe?” Devi menepuk pundak Kinar “Aww, sakit tahu” kata Kinar mengelus pelan pundaknya. “Udah... Pak Damar nggak masuk hari ini, katanya sih di suruh sama Kepala Sekolah buat ngurus anak baru.” Kata Devi kemudian duduk di kursi. “Ohh gitu, ehh Dev, mana permen gue,kemaren kan loe yang ngehabisin, sekarang buruan ganti” kata Kinar sambil manyun.

Cewek satu ini, emang hobi banget makan-makanan yang namanya permen. “Iya-iya baru gue minta dikit aja, langsung nagihh, huhh, dasar Candy lovers” Devi menyodorkan beberapa bungkus permen kepada Kinar.

 

“Ihh Kinar, kalau makan permen, bungkusnya jangan di buang sembarangan dong” Pagi-pagi Devi sama Kinar udah ribut di dalam kelas, “ya udah... gue buang di laci sini aja ya... kan nggak ada yang make tempat duduknya” Jawab Kinar tersenyum sambil mengambil bungkus permen yang berserakan dan mengumpulkannya di laci tersebut.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini kita punya teman baru, dia pindahan dari Bogor, namanya Tian” Bu Sarah masuk kelas Kinar, sambil mengenalkan seorang anak baru pindahan dari bogor itu. “Pagi temen-temen nama gue Tian, gue pindahan dari Bogor, semoga kita bisa kerja sama di sini”

Anak baru itu kelihatan tampan dan sangat berwibawa, membuat satu kelas kagum akannya tak terkecuali Kinar, yang kelihatan masih asyik mengemut permen kesukaannya sambil nulis-nulis di kertas nggak jelas.

“Kamu boleh duduk di sana” Bu Sarah menunjuk satu bangku yang masih kosong di sebelah Kinar. Lalu kemudian Tian duduk di situ.

“Ya ampun... ganteng banget Ci!, pokoknya gue harus bisa dapetin dia, gila keren banget” Kinar mendengar Nella dan Meci yang lagi ngobrol sambil ngagumin Tian, udah kayak cacing kepanasan, 2 cewek ini memang musuh besar Kinar sejak awal masuk sekolah, karena mereka berdua suka bikin ribut dan cari masalah kerjaannya. Hampir di setiap kesempatan mereka selalu berantem dan perang dingin.

“Woi... ribut banget sih loe berdua,kalo nggak niat belajar, keluar aja dehh” kata Kinar ketus pada ke dua cewek yang duduk di depannya itu. Sontak Meci dan Nella, langsung diem dan nengok ke arah Kinar dengan tatapan tajam.

“Kenapa? Dasar kunti... hih” Kinar mendadak jadi jijik ngeliyat muka Nella dan Meci. “Duhh... kenapa di laci gue banyak bungkus permen gini sihh...” Tian merogoh segenggam bungkus permen di lacinya, kebetulan saat itu pelajaran Pak Damar baru di mulai. Secara serempak satu kelas menatap Kinar tajam, hanya Devi yang terlihat prihatin melihat sahabatnya itu.

“Kinar...” suara berat Pak Damar terdengar mengancam Kinar. Yahh jadilah Kinar membersihkan seluruh halaman sekolah selama seharian penuh itu.

Hari besoknya Kinar datang ke sekolah dan masuk kedalam kelas dengan wajah lesu. “Loe nggak papa?” tanya Tian yang tampak perhatian pada Kinar. “....” sunyi, Kinar tak membalas pertanyaan Tian.

“Pagi Tian... kamu makin cakep dehh hari ini” ungkap Nella yang baru saja masuk ke dalam kelas. “Ehh Kunti... berisik banget sihh!, nggak bisa ya, diem bentar aja,kepala gue lagi puyeng nih..” ucap Kinar, yang mengagetkan Nella.

“Yee... santai aja mba, loe ngagetin gue tahu nggak?” Kinar pun langsung keluar dari kelas dan menuju bangku taman sekolah yang masih sepi. “Loe lagi bete ya hari ini?” ungkap seseorang yang berdiri di belakang Kinar duduk.

Ia  menoleh, “Mau ngapain sih loe?” tanya Kinar dingin. “Kenapa sih loe marah-marah terus? Nggak takut apa kalo entar muka loe jadi keriput?” tanya Tian mencoba membuka percakapan, “Hehe... nggak lucu.” Singkat terdengar jawaban Kinar yang emang lagi nggak Mood.

Kantin sekolah...

“Dev... gue lagi bete nihh hari ini, sebel banget gue, nggak di mana-mana rasanya nggak mood mulu, nggak asik banget sihh hidup gue, Dev.. kira-kira apa ya yang bisa bikin gue biar nggak bete terus?” cerita Kinar panjang,lebar plus luas.

“Dev? Hello, Deviana...” Kinar mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Devi, yang sedang melihat ke arah lapangan basket sambil senyam senyum. “Devi!” bentak Kinar yang membuat Devi tersadar. “Apaan sih Nar? Bikin gue kaget aja” kata Devi kesal.

“Hemmm bagus ya... gue cerita, curhat ampe bibir gue monyong loe nya malah ngeliyatin lapangan basket, iya gue tahu banyak cowok ganteng, emang loe lagi ngeliyatin siapa? ampe mata loe mau lepas gitu?” tanya Kinar.

“Eng... gue nggak tahu ya, tapi kayaknya gue lagi fall in love deh sama Tian...” jawab Devi sambil terus memerhatikan Tian di lapangan basket, sedang Kinar hampir kesedek gara-gara denger omongan Devi barusan. “Serius loe?” Kinar meyakinkan Devi, “Iya, serius...” kata Devi.

Beberapa bulan berlalu di lewati Kinar di sekolahnya, dan ternyata hari ini adalah hari yang paling tak bisa di lupakan olehnya, Tian mengakui bahwa ia mencintai Kinar dan menyatakannya di depan seluruh sekolah, yang membuat hati Devi terluka, Tian memberikan Kinar sebuah Permen makanan kesukaan Kinar dengan bentuk hati yang kelihatan sangat indah dan manis.

Kinar menerima Permen itu, namun ia tak bisa menerima cinta Tian, karena perasaannya terhadap Tian hanya sebatas teman, sedangkan Devi juga tak mau memaksakan perasaannya, ia tahu cinta memang tidak bisa di paksakan, ia lebih memilih untuk berteman saja dengan Tian, dan melupakan angan-angannya untuk menjadi pacar Tian.

Lain lagi dengan Nella dan Meci mereka, sekarang tidak mengejar-ngejar Tian lagi melainkan seorang anak pindahan baru dari Singapore bernama Joe.

 

Catatan : Cinta dapat di ungkapkan dengan berbagai hal dan ekspresi, namun Cinta tidak bisa di paksakan, dan Cinta itu akan indah jika di antaranya di temani rasa persahabatan, kebahagian, kecerian, seperti sebuah Permen yang memiliki rasa,warna dan bentuknya yang indah, Cinta itu terasa manis. Indahnya Cinta.

By : RF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar