Permen Cinta
Kinar, melesat cepat melewati
murid-murid lain di sepanjang Koridor sekolahnya, sambil tak berhenti sesekali
menatap jarum jam di tangannya yang menunjukkan pukul 10.15. Yup! Ia sudah hampir terlambat untuk mengikuti
kelas kesenian, bimbingan dari Pak Damar,setelah jam istirahat itu.
“Cittt...”
Suara sepatunya berdecit
seketika, ketika ia sampai di depan kelas kesenian yang cukup tua itu...
pertama-tama ia mengetuk pintu dan masuk dengan tertunduk pasrah, siap akan
kena semprotan dari guru super galak itu. Namun ia heran karena kelas itu amat
sepi, ia mendongak dan melihat kelas itu kosong tak berpenghuni, dengan heran
ia keluar dan mencoba mencari Devi, sahabat karibnya.
“Lohh.... Kinar, ngapain kamu
di sini? Ini kan kelas Kesenian, kok kamu gak ikut?” tanya Bu Sarah guru
Sejarah di sekolah Kinar. “Eh? Ibu... niatnya sih emang mau gitu bu... tapi
tadi barusan saya masuk ke ruang kesenian, tapi nggak ada orang tuh bu..” jawab
Kinar, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ohh gitu... kamu nggak tahu
ya, kan kelas kesenian di pindah ke lantai dua, yang lama mau di jadiin gudang”
jawab Bu Sarah, yang bikin Kinar panik. “Hah? Ya udah bu saya masuk dulu...
permisi” Kinar berlari super cepat agar segera sampai ke lantai 2 dan berharap
bahwa pelajaran Pak Damar, belum di mulai.
“Nget...” Kinar membuka pintu
kelas kesenian dengan dada, dag dig dug ser.... “Kinar?” suara Devi terdengar,
“Woii... Kinar sini cepetan” kata Devi lagi. Kinar yang takut kalau-kalau Pak
Damar ada di ruangan itu pun hanya memejamkan matanya dan tak berani menengok.
“Nar... kenapa sih loe?” Devi
menepuk pundak Kinar “Aww, sakit tahu” kata Kinar mengelus pelan pundaknya.
“Udah... Pak Damar nggak masuk hari ini, katanya sih di suruh sama Kepala
Sekolah buat ngurus anak baru.” Kata Devi kemudian duduk di kursi. “Ohh gitu,
ehh Dev, mana permen gue,kemaren kan loe yang ngehabisin, sekarang buruan
ganti” kata Kinar sambil manyun.
Cewek satu ini,
emang hobi banget makan-makanan yang namanya permen. “Iya-iya baru gue minta
dikit aja, langsung nagihh, huhh, dasar Candy lovers” Devi menyodorkan beberapa
bungkus permen kepada Kinar.
“Ihh Kinar, kalau makan permen,
bungkusnya jangan di buang sembarangan dong” Pagi-pagi Devi sama Kinar udah
ribut di dalam kelas, “ya udah... gue buang di laci sini aja ya... kan nggak
ada yang make tempat duduknya” Jawab Kinar tersenyum sambil mengambil bungkus
permen yang berserakan dan mengumpulkannya di laci tersebut.
“Selamat pagi anak-anak, hari
ini kita punya teman baru, dia pindahan dari Bogor, namanya Tian” Bu Sarah
masuk kelas Kinar, sambil mengenalkan seorang anak baru pindahan dari bogor
itu. “Pagi temen-temen nama gue Tian, gue pindahan dari Bogor, semoga kita bisa
kerja sama di sini”
Anak baru itu kelihatan tampan
dan sangat berwibawa, membuat satu kelas kagum akannya tak terkecuali Kinar,
yang kelihatan masih asyik mengemut permen kesukaannya sambil nulis-nulis di
kertas nggak jelas.
“Kamu boleh duduk di sana” Bu
Sarah menunjuk satu bangku yang masih kosong di sebelah Kinar. Lalu kemudian
Tian duduk di situ.
“Ya ampun... ganteng banget Ci!,
pokoknya gue harus bisa dapetin dia, gila keren banget” Kinar mendengar Nella
dan Meci yang lagi ngobrol sambil ngagumin Tian, udah kayak cacing kepanasan, 2
cewek ini memang musuh besar Kinar sejak awal masuk sekolah, karena mereka
berdua suka bikin ribut dan cari masalah kerjaannya. Hampir di setiap
kesempatan mereka selalu berantem dan perang dingin.
“Woi... ribut banget sih loe
berdua,kalo nggak niat belajar, keluar aja dehh” kata Kinar ketus pada ke dua
cewek yang duduk di depannya itu. Sontak Meci dan Nella, langsung diem dan
nengok ke arah Kinar dengan tatapan tajam.
“Kenapa? Dasar kunti... hih”
Kinar mendadak jadi jijik ngeliyat muka Nella dan Meci. “Duhh... kenapa di laci
gue banyak bungkus permen gini sihh...” Tian merogoh segenggam bungkus permen
di lacinya, kebetulan saat itu pelajaran Pak Damar baru di mulai. Secara
serempak satu kelas menatap Kinar tajam, hanya Devi yang terlihat prihatin
melihat sahabatnya itu.
“Kinar...” suara berat Pak
Damar terdengar mengancam Kinar. Yahh jadilah Kinar membersihkan seluruh
halaman sekolah selama seharian penuh itu.
Hari besoknya Kinar datang ke
sekolah dan masuk kedalam kelas dengan wajah lesu. “Loe nggak papa?” tanya Tian
yang tampak perhatian pada Kinar. “....” sunyi, Kinar tak membalas pertanyaan
Tian.
“Pagi Tian... kamu makin cakep
dehh hari ini” ungkap Nella yang baru saja masuk ke dalam kelas. “Ehh Kunti...
berisik banget sihh!, nggak bisa ya, diem bentar aja,kepala gue lagi puyeng
nih..” ucap Kinar, yang mengagetkan Nella.
“Yee... santai aja mba, loe
ngagetin gue tahu nggak?” Kinar pun langsung keluar dari kelas dan menuju
bangku taman sekolah yang masih sepi. “Loe lagi bete ya hari ini?” ungkap
seseorang yang berdiri di belakang Kinar duduk.
Ia menoleh, “Mau ngapain sih loe?” tanya Kinar
dingin. “Kenapa sih loe marah-marah terus? Nggak takut apa kalo entar muka loe
jadi keriput?” tanya Tian mencoba membuka percakapan, “Hehe... nggak lucu.”
Singkat terdengar jawaban Kinar yang emang lagi nggak Mood.
Kantin sekolah...
“Dev... gue lagi bete nihh hari
ini, sebel banget gue, nggak di mana-mana rasanya nggak mood mulu, nggak asik
banget sihh hidup gue, Dev.. kira-kira apa ya yang bisa bikin gue biar nggak
bete terus?” cerita Kinar panjang,lebar plus luas.
“Dev? Hello, Deviana...” Kinar
mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Devi, yang sedang melihat ke arah
lapangan basket sambil senyam senyum. “Devi!” bentak Kinar yang membuat Devi
tersadar. “Apaan sih Nar? Bikin gue kaget aja” kata Devi kesal.
“Hemmm bagus ya... gue cerita,
curhat ampe bibir gue monyong loe nya malah ngeliyatin lapangan basket, iya gue
tahu banyak cowok ganteng, emang loe lagi ngeliyatin siapa? ampe mata loe mau
lepas gitu?” tanya Kinar.
“Eng... gue nggak
tahu ya, tapi kayaknya gue lagi fall in love deh sama Tian...” jawab Devi
sambil terus memerhatikan Tian di lapangan basket, sedang Kinar hampir kesedek
gara-gara denger omongan Devi barusan. “Serius loe?” Kinar meyakinkan Devi,
“Iya, serius...” kata Devi.
Beberapa bulan berlalu di
lewati Kinar di sekolahnya, dan ternyata hari ini adalah hari yang paling tak
bisa di lupakan olehnya, Tian mengakui bahwa ia mencintai Kinar dan
menyatakannya di depan seluruh sekolah, yang membuat hati Devi terluka, Tian
memberikan Kinar sebuah Permen makanan kesukaan Kinar dengan bentuk hati yang
kelihatan sangat indah dan manis.
Kinar menerima Permen itu,
namun ia tak bisa menerima cinta Tian, karena perasaannya terhadap Tian hanya
sebatas teman, sedangkan Devi juga tak mau memaksakan perasaannya, ia tahu
cinta memang tidak bisa di paksakan, ia lebih memilih untuk berteman saja
dengan Tian, dan melupakan angan-angannya untuk menjadi pacar Tian.
Lain lagi dengan Nella dan Meci
mereka, sekarang tidak mengejar-ngejar Tian lagi melainkan seorang anak
pindahan baru dari Singapore bernama Joe.
Catatan : Cinta dapat di
ungkapkan dengan berbagai hal dan ekspresi, namun Cinta tidak bisa di paksakan,
dan Cinta itu akan indah jika di antaranya di temani rasa persahabatan,
kebahagian, kecerian, seperti sebuah Permen yang memiliki rasa,warna dan bentuknya
yang indah, Cinta itu terasa manis. Indahnya Cinta.
By : RF
Tidak ada komentar:
Posting Komentar